| |

Mengkompos Sampah demi Lingkungan dan Kesehatan

Mengkompos 1

Hai, teman-teman apa kabar?... kita bertemu kembali, kali ini SD Kristen Petra 5 akan berbagi cerita tentang pembuatan pupuk kompos dari sampah organik. Kita tahu bahwa sampah banyak ditemui di mana saja, untuk mengurangi sampah khususnya sampah organik di sekolah, salah satu cara dapat dilakukan melalui pengomposan dengan menggunakan tong  komposter yang bagian bawahnya berlubang. Komposter dapat berupa tong sampah plastik atau kotak semen yang dapat dibuat dan dimodifikasi sendiri. Bagian dalam komposter memiliki instalasi untuk sirkulasi udara sehingga dapat membantu proses pengomposan dan mempercepat proses penguraian sampah. Selain itu, komposter juga mampu menjaga kelembapan dan suhu sehingga bakteri dan jasad renik dapat bekerja mengurai bahan organik secara optimal. Bahan dasar kompos adalah sampah organik, seperti sayuran, daun, dan ranting melalui proses penguraian oleh mikroorganisme tertentu.

Hari Jumat, 14 Februari 2020, bapak ibu guru mengajak beberapa siswa- siswi kelas IV-V SD Kristen Petra 5 untuk mempraktikkan cara mengolah sampah organik menjadi kompos dengan menggunakan tong komposter. Nah, penasaran bagaimana prosesnya? Yuk, kita simak penjelasan berikut!

Mengkompos 2

Untuk membuat pupuk kompos, siswa mengambil sampah organik seperti daun-daunan, kulit buah, sisa sayuran atau sampah yang mudah terurai kemudian disimpan dalam wadah tong komposter. Sampah mulai  dimasukkan dalam tong komposter, sampah daun-daunan yang lebar bisa dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil agar nantinya mudah terurai lalu kita beri air secukupnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, beberapa hari sekali sampah- sampah tersebut harus dicek dan diaduk-aduk. Setelah  1-3 bulan diendapkan maka   akan menjadi  pupuk  padat yang dapat digunakan untuk menutrisi tanaman-tanaman yang ada di sekolah, sehingga tidak digunakan lagi pupuk dari bahan kimiawi.

Melalui kegiatan ini diharapkan siswa bisa menjadi pelopor untuk menjaga dan mengolah sampah agar tercipta suasana yang nyaman dan bersih di sekolah dan di lingkungan tempat tinggal.

Pencegahan Nyamuk dengan Larvitrap

Saat ini kita sudah masuk pada musim hujan. Musim hujan bisa membuat lingkungan di sekitar rumah kita menjadi lembap. Tempat yang lembap, biasanya menjadi tempat bagi nyamuk untuk hidup dan berkembang biak. Dengan adanya nyamuk yang banyak, pastinya membuat kita tidak nyaman. Selain membuat kulit kita bentol, gigitan nyamuk juga bisa membawa berbagai penyakit, misalnya demam berdarah, malaria, ataupun penyakit kulit seperti iritasi dan gatal-gatal.

Nyamuk 1

Salah satu cara pencegahan yang bisa kita lakukan melalui metode pemasangan larvitrap. Larvitrap merupakan perangkap nyamuk, sehingga bisa mengurangi perkembangbiakan nyamuk. Larvitrap merupakan perangkap nyamuk yang tidak mengandung bahan beracun seperti obat nyamuk pada umumnya. Nah, pada tanggal 13 Januari 2020, siswa-siswi kelas IV-B SD Kristen Petra 5 belajar membuat larvitrap. Bagaimana cara membuatnya? Yuk, kita simak cara pembuatannya!

Nyamuk 2

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahannya, yaitu: air, gula merah, ragi, dan botol air mineral bekas. Kemudian, siapkan wadah perangkapnya dengan cara memotongnya menjadi dua bagian. Pisahkan bagian mulut dan bawah botol. Langkah berikutnya, campur gula merah dengan air panas. Biarkan hingga dingin, dan tuang pada bagian potongan bawah botol. Lalu, tambahkan ragi pada cairan gula merah. Setelah itu, pasang (masukkan) potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong. Bungkus botol dengan sesuatu yang berwarna hitam; bisa menggunakan tas kresek. Langkah terakhir, letakkan botol pada sudut ruangan, dan larvitrap pun siap sebagai perangkap nyamuk. Tunggu hingga dua minggu ke depan untuk melihat nyamuk hasil tangkapan. Nah, teman-teman… inilah cara kami untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk. Mudah, bukan? Kalian juga bisa mencoba membuatnya di rumah, lho…!

Aku dan Tubuhku

AKU TUBUHKU 1

Hai, teman-teman…! Apa kabar? Semoga sehat selalu, ya...! Kami, siswa-siswi kelas IV SD Kristen Petra 5, ingin berbagi kisah dengan teman-teman semua. Pada tanggal 20 Januari 2020, kami mendapatkan pengetahuan baru, yaitu mengenal pendidikan seks dan napza melalui ceramah yang dibawakan oleh Ibu Niken Mahendra dan dr. Agustinus Budi Santosa. Pembelajaran ini sangat berguna bagi kami, karena melalui materi yang  disampaikan kami mengetahui cara-cara untuk merawat dan menjaga tubuh kami sendiri. Apa saja sih yang disampaikan? Yuk, kita simak ceritanya.

Pada sesi pertama, kami mendapatkan materi tentang pendidikan seks. Materi dibagi berdasarkan jenis kelamin. Siswa laki-laki mendapat penjelasan dari dr. Agustinus Budi Santosa, sedangkan siswa perempuan mendapat penjelasan dari Ibu Niken Mahendra. Tampak wajah antusias dan penasaran ketika dijelaskan mengenai anggota tubuh yang terkait dengan kesehatan seksual. Penceramah juga menjelaskan, bahwa setiap diri kita memiliki area pribadi yang harus kita rawat dan jaga. Area pribadi adalah bagian anggota tubuh yang tertutupi oleh pakaian. Kita juga dijelaskan agar tidak dengan mudah membiarkan orang lain untuk melihat ataupun menyentuh area pribadi kita.

AKU TUBUHKU 2

Pada sesi yang kedua, kami mendapatkan penjelasan tentang napza. Ini merupakan pengalaman pertama bagi kami, sehingga membuat kami penasaran dan antusias. Napza adalah akronim dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Napza juga disebut narkoba atau narkotik dan obat-obat terlarang. Napza merupakan obat-obatan yang telah disalahgunakan oleh penggunanya. Pemakaian napza dapat berakibat merusak kesehatan tubuh, serta bisa merusak masa depan penggunanya. Orang-orang yang menggunakan napza tidak dapat berpikir dengan jernih, sehingga  cenderung memiliki masalah, baik itu pada diri sendiri maupun dengan orang lain.

Nah, teman-teman… melalui pembelajaran ini, kami diingatkan bahwa tubuh kita ini berharga. Tuhan telah menganugerahkan tubuh yang sehat dan kuat, tentu dengan tujuan yang mulia dan baik.  Oleh karena itu, kami mau mengajak teman-teman semua… mari kita rawat tubuh kita, dan juga jauhi narkoba!

Berapa Tinggi Badanmu

Pengukuran adalah suatu proses memberikan bilangan kepada kualitas fisik panjang, kapasitas, volume, luas, sudut, berat (massa), dan suhu. Tahukah kalian, kehidupan kita sehari-hari tidak pernah lepas dari pengukuran? Salah satu contoh hal rutin yang dilakukan adalah mengukur tinggi dan berat badan kita. Melalui pengukuran ini, kita dapat melihat kondisi kesehatan seseorang. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui cara mengukur yang benar.

 
Berapa_Tinggi_Badanmu_2.jpgBerapa_Tinggi_Badanmu_1.jpg

Pada kesempatan ini, kami, siswa-siswi SD Kristen Petra 5, mau berbagi pengalaman ketika belajar Matematika tentang pengukuran pada tanggal 22 Oktober 2019. Ibu guru kami menjelaskan tentang jenis-jenis pengukuran yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, kami dibagi dalam beberapa kelompok. Kami diberi tugas untuk mengukur benda-benda yang ada di sekitar kami. Alat ukur yang kami gunakan bermacam-macam, antara lain: meteran kain, penggaris, dan juga timbangan. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kami diberi kesempatan untuk mengukur tinggi dan berat badan kami. Kami menggunakan alat pengukur secara bergantian, dan kami catat hasilnya. Setelah itu, kami mendiskusikan hasil pengukuran tersebut. Melalui pembelajaran ini, kami dapat memahami dan mengenali diri kami sendiri ataupun orang lain, berdasarkan tinggi badan. Dan kami juga bisa melakukannya di rumah, lho! Selamat mencoba!

Menghitung Debit Air

Hai teman-teman!!

DEBIT1

Pernahkan kalian mendengar istilah debit air? Debit air adalah volume air yang mengalir dalam satuan waktu ( liter/ detik, liter/ menit , m3/jam dan sebagainya ) . Satuan debit biasanya digunakan untuk menentukan volume air yang mengalir dalam suatu satuan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari istilah debit sering digunakan untuk pengawasan kapasitas air di sungai, bendungan atau waduk agar senantiasa terkendali. Untuk memahami materi debit air, siswa siswi kelas V SD Kristen Petra 5 Surabaya melakukan percobaan menghitung debit air. Kegiatan ini dilakukan pada hari Jumat, 20 September 2019. Bagaimana caranya? Yuk kita simak!

DEBIT2

DEBIT3

Dalam melakukan percobaan ini, tiap-tiap siswa perlu menyiapkan bahan dan peralatan, antara lain botol air mineral ukuran 600 ml yang telah dilubangi bagian tutupnya, gelas ukur, stopwatch dan alat tulis. Setelah menyiapkan peralatan, siswa mengisi air ke dalam botol mineral dengan volume yang sama. Dalam setiap kelompok, ada seorang siswa yang menjadi time keeper yang akan menghitung waktu. Secara bersamaan, siswa mengalirkan air dari dalam botol menuju gelas ukur yang tersedia sampai air yang ada di dalam botol habis. Para siswa diminta untuk mengamati air yang mengalir sambil mencatat waktu yang tertera pada stopwatch. Selesai mencatat, tiap-tiap kelompok mendiskusikan hasil pengamatan lalu menghitungnya dengan rumus debit air. Kegiatan ini ditutup oleh guru dengan cara memberikan pengertian debit serta menghubungkan dengan volume dan waktu. Ternyata belajar debit itu sangat mudah dan mengasyikan. Ayo teman-teman silakan mencoba!

boost the values reap the success